Senin, 25 Mei 2020

DIMANA SALAH JOKOWI TERHADAP ISLAM?


Apa salah Jokowi sehingga sampean menuduhnya musuh Islam?

Apakah ia melarang kalian sholat?
Melarang akhwat berhaji atau umroh? 
Melarang ikhwan berzakat?
Melarang antum azan?
Menipu dana umroh dan haji?
Stop memberi anggapan terhadap umat Islam?

Apa salah Jokowi sampai ustad dan ustazah kalian begitu membencinya, dengan menuduhnya zalim terhadap Islam?

Apakah ia melarang sampean sholat Jum'at, tarawih atau witir?
Apakah ia pernah memerintahkan merobohkan masjid, musholla atau langgar?
Membunuhi guru ngaji, menculik ulama, menggantung mereka yang berbeda mazhab?

Apakah salah Jokowi terhadap politik identitas Islam?

Apakah ia membubarkan partai Islam seperti zaman Orde Lama?
Membantai umat Islam seperti kasus Talang Sari dan Tanjung Priok seperti Zaman Orde Baru?

Mengadili dan memenjarakan Habib atau ulama pelaku kriminal tanpa proses pengadilan? 
Menangkapi politikus Islam yang mensupport dan berafiliasi dengan HTI?

Apa salah Jokowi dimata kawan-kawan antum yang sangat membencinya?

Apakah Jokowi pernah membubarkan kajian NU, Muhammadiyah, Salafi atau Wahabi? 
Bahkan pengajian yang terang benderang sudah memaki dan mencaci dirinya, Jokowi tidak menindaknya.

Apakah ia pernah menjadi algojo suatu rezim yang pernah membantai umat Islam?
Apakah ia larang pengajian? Menurunkan khotib dari mimbar? Menyegel masjid?

Apakah salah Jokowi, sampai kalian mendoakannya sejajar dengan kaum kafir Quraisy Mekah?

Apakah Jokowi memusuhi risalah Nabi?
Apakah Jokowi menginjak-nginjak Al-Qur'an?
Apakah Jokowi membela dan membebaskan Ahok yang kalian tuduh penista Al-Qur'an?
Apakah Jokowi tidak konsisten membela Palestina?

Masih banyak yang bisa dikritik tentang kinerja Jokowi, kritiklah. Tapi kalau menuduh Jokowi itu anti Islam, itu tuduhan yang keji dan sudah melampaui batas.

Bukan hanya keji dan kelewat batas, tapi tuduhan itu sangat tak adil dan sangat tidak waras. Tuhan tidak akan mentolerir perbuatan sampean walupun tuduhan cuma ada di musim pilpres.

Berlaku adillah, karena berlaku adil itu perintah Allah Jalla Jalaluhu.

Akhki, ukhti, Ikhwan dan akhwat, kebencian kalian yang membabi buta tidak berdasarkan fakta, akan dihisab dihari kiamat.

Disana, dilautan manusia mungkin kalian akan berbondong-bondong mencari si tukang meubel Jokowi untuk memohon maaf kepadanya.

Kalau memang kalian tak menyukainya, cukuplah jangan #memfitnahnya.
Beliau hanyalah manusia biasa, jauh dari kata sempurna.

tapi kalo kalian pembuat hoax dan fitnah dgn tujuan menggulingkan Presiden sah, kami 85 jt lebih para relawan akan melawan...

ORANG-ORANG BODOH YANG MEMBAWA AGAMA


Akhir-akhir ini ada orang-orang bodoh yg mencoba membawa Agama ingin menabrakkan dengan bangsa dan negara. 

Lalu semua yg ada di Indonesia di jelek-jelekkan, tidak ada baiknya bangsa ini. Semuanya jelek, punya pancasila jelek, punya merah putih jelek, punya tentara jelek, punya polisi jelek, punya Kyai jelek, LALU YANG BAIK SIAPA ??? 

Shalat Subuh jadi alasan untuk nabrak negara, Shalat Jum'at jadi alasan untuk nabrak negara, apa tidak ada cara lain selain cara itu ??? 

Kalian kan bisa berdemonstrasi, kalian bisa tunjukkan kekuatan, ribuan spanduk bahkan jutaan spanduk bisa kalian bentangkan... KENAPA KALIAN SELALU MEMBAWA AGAMA ??? 

Apa kalian tidak belajar dari Timur Tengah ? 
Apa tidak belajar dari negara-negara lain ? 

Belajarlah !!! 

Kalau kalian tidak mau belajar, MENYINGKIRLAH DARI INDONESIA 

~Gus Muwafiq~

Hendropriyono Minta Warga Keturunan Arab di Indonesia Tidak Jadi Provokator



Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), AM Hendropriyono meminta kepada Warga Negara Indonesia (WNI) keturunan agar tak memprovokasi masyarakat pasca-pemilu 2019.

Sebab, Hendro menyebut, budaya masyarakat Indonesia sangat menghormati pemimpinnya.
Sehingga, WNI keturunan tak memprovokasi usai gelaran Pemilu.

saya ingin memperingatkan bangsa indonesia, WNI keturunam arab supaya sebagai elit yang dihormati oleh masyarakat kita, cobalah mengendalikan diri jangan menjadi provokator, jangan memprovokasi rakyat," kata Hendropriyono di Gedung Lemhanas, Jakarta, Senin (6/5/2019).

Hendro mastikan, ucapannya itu tak memiliki maksud apapun apalagi bernuansa SARA dan unsur sentimen terhadap suatu golongan.

Ia hanya khawatir, masyarakat di lapisan bawah terprovokasi akibat ujaran dan perkataan tokoh WNI keturunan yang bisa menimbulkan perpecahan bangsa.

Terlebih, ajakan untuk melawan pemerintah dengan cara aksi-aksi di jalanan.

"masyarakat keturunan arab WNI tau lah posisinya yang dimuliakan oleh masyatakat kita itu dengan dimulaikanlah tau lah bahwa dia itu dalam posisi yang mengayomi masyarakat, jangan memprovokasi masyarakat melakukan politik jalanan, mengajak pawai, apapun namanya kedaulatan rakyat, tapi itu dijalanan dan tidak disiplin," ucap Hendropriyono.

Untuk itu, mantan Ketua Umum PKPI ini pun meminta kepada masyatakat agar tak terprovokasi terhadap ujaran dan perkataan para tokoh WNI keturuann yang menyebarkan kebencian kepada pemerintah.

"kalau tidak ada yang mengingatkan, lalu siapa yang ingatkan trus semau-maunya aja ngomong maki-maki, bahasa yang kasar, bahasa yang kasar dan tidak pantas didengar oleh cucuk-cucuk kita. Masa dengar sepeti itu kepada seorang presidennya, terhadap pemimoinnya, engga boleh," tutup Hendropriyono.

https://wartakota.tribunnews.com/2019/05/07/video-hendropriyono-minta-warga-keturunan-arab-di-indonesia-tidak-jadi-provokator

Minggu, 24 Mei 2020

Celana Pokek & Gamis .


Saya belum tahu etimologis kata pokek ini, tapi kata pokek itu adlah celana pendek (kalau di Jawa disebut srowal kalau kolor biasanya panjangnya di bawah lutut). Yang jelas sampai saat ini saya belum nemu referensi yg pas kenapa kawan2 saya yang keturunan Tionghoa baik laki maupun perempuan senang memakai celana pokek ini.

Kalau Gamis itu pakaian khas orang Arab-di arab sana itu pakaian sehari-hari pengemis, penggembala onta sampai Raja Salama seringnya memakai baju Gamis ini --oh iya laki2 & perempuan arab memakai gamis juga. Tapi di Indonesia Gamis justru jadi pakaian eklusif dari "orang-orang suci" yang konon dari perasan saya orang yang dekat dengan Allah.

Terus ada apa kok tiba-tiba saya tertarik dengan celana pokek (yg sering di pakai Keturunan China) & Gamis (yang sering di pakai oleh keturunan arab)-- Yupps dugaan anda benar itu karena kejadian seorang pria berbaju gamis yang ngamuk ke aparat/petugas pemerintah tapi anehnya justru aparatnya yang minta maaf -- masalah selesai dgn saling memaafkan & perkara hukumnya saya yakin sudah menguap.

Kalau celana pokek ini juga mengingatkan saya akan kejadian di masa Gusdur jadi Presiden, saat itu beredar desas desus jika ada Jenderal dari AD & Kepolisian yang sering bertandang ke rumah Pengusaha keturunan itu yang konon kalau menerima Jenderal itubertamu cukup make celana pokek saja dan saya ingat banget saat Presiden Gusdur sebagai Pangti memerintahkan untuk menangkap pengusaha bercelana pokek itu justru yang diterima Gusdur adalah pembangkangan dari bawahanya tersebut.

Jadi hebat sekali kan dua jenis pakaian itu tadi? Celana pokek & Gamis ternyata bisa jadi simbol kebal hukum di kami +62.

Oke selamat Hari raya buat Inlander Pribumi saja-- mohon maaf lahir & batin ya

Prasetyo BoediFrast

TERSERAH JOKOWI


Jokowi dihujat karena harga minyak dunia terjun bebas termurah sepanjang sejarah tp harga BBM di Indonesia tak kunjung turun. Apa reaksi Jokowi ?? Marah2 atau Curhat ke media? Tidak. Beliau diam menerima semua hujatan karena beliau tau, tak mgkn menjelaskan kepada pembencinya bahwa saat ini harga penyimpanan minyak lebih mahal dibanding harga minyaknya sendiri.

Saat ini seluruh Ladang minyak di Dunia tetap Produksi, tp permintaan turun hampir 90%, Negara2 Industri sibuk mengatasi Covid dibanding ngurusi ekonominya, semua Industri mati suri, semua kilang penyimpan minyak full, kapal2 tangker full berisi cadangan minyak yg mereka beli dgn harga 60-70$/barel, Jd saat harga anjlok sampai 20 $/barel mereka tak bisa membeli, selain tak memiliki tempat penyimpanan lagi harga murah sudah diborong AS dan sekutunya.

Diawal pandemi Covid beliau kehilangan ibunda tercintanya. Jangankan memberi simpati, stop mencaci saja tak sanggup mereka lakukan.

Pak Jokowi "Sing sabar ngeh pak.." kami tau kepala bapak pusing 7 keliling saat ini, bapak ingin Roda Ekonomi Negara ini tetap berputar ditengah Wabah yg menyebar, makanya bapak mengatakan mari "Berdamai dengan Corona", pengertiannya sangat mudah dan jelas, kita kembali beraktifitas seperti biasa dgn protokoler Covid yg sudah ditentukan, tp para pembenci memaknainya anda telah menyerah menghadapi pandemi ini.

Mereka teriak kenapa Kita Tidak mencetak uang sebanyak-banyaknya supaya bisa mensubsidi kemalasan mereka, tak usah kita jawab, kita anggap saja mereka tak mengerti apa itu Inflasi.

Mereka ingin bapak meniru Vietnam, China atau Australia yg sukses meredam Pandemi, tp pernahkan mereka berfikir tingkat disiplin masyarakatnya jauh dibanding kita, disana tak ada orang2 yg berdesakan antri hanya untuk bernostalgia menikmati kenangan disebuah cafe dan restoran yg mau ditutup. Vietnam mengancam warganya dgn kurungan 12 tahun penjara  yg ketahuan tak memakai masker, di China ketahuan nongkrong di cafe akan digebukin aparat keamanannya, bandingkan dgn Indonesia, seorang ulama yg mengaku Habib saja bisa marah2 dengan petugas PSPB karena tak mau disuruh mutar di area Chek Point.

Kami tau dalam diam Pakde telah bekerja mati2an, Sritek dan perusahaan tekstil lainnya anda paksa membuat APD sebanyak-banyaknya, BUMN membuat Ventilator dan beberapa laboratorium ternama dalam Negri sedang dikejar Waktu menciptakan Anti Virus terbaik melawan Corona.

Selamat Hari Raya Idul Fitri Pakde, Terserah mau dibawa kemana Kapal Besar bernama Indonesia ini berlayar, kami percaya Kapal ini bisa bertahan ditengah ganasnya badai krisis Dunia. Bila Gubernur Jakarta banyak Pahalanya karena banyak dicaci entah berapa banyak pahala anda saat ini. Bukan begitu A'a..??

Iman, Ibadah, dan Perayaan



Ada teman saya yang terangan mengaku kafir, khususnya kepada teman-teman dekat dia. Tapi dia haji, dalam arti pernah melakukan perjalanan ibadah haji. Kok bisa? Dia dulu berinvestasi di biro perjalanan. "Kebetulan ada seat kosong, ya saya isi saja, sekaligus menambah pengalaman," katanya. Itu sebuah ilustrasi sederhana tentang tiadanya hubungan yang serta merta antara ritual ibadah dengan iman.

Orang yang rajin ke masjid atau gereja belum tentu beriman. Demikian pula orang yang memakai atribut tertentu, misalnya berjilbab. Ada orang yang saya kenal, berjilbab lebar, tapi dia mengaku ateis. 

Orang-orang yang mendalami ilmu agama tahu bahwa iman adalah persoalan yang paling pribadi. Ringkasnya, tidak ada seorang pun yang bisa tahu soal iman seseorang. Hanya orang itulah yang tahu. Seseorang yang mengaku beriman belum tentu beriman, sebaliknya, yang mengaku tidak beriman belum tentu juga demikian. 

Apa sih iman itu? Keyakinan seseorang terhadap sesuatu. Sesuatu itu pun tidak serta merta definitif. Ada orang yang bersyahadat, sesuai iman Islam, misalnya. Tapi bisa jadi iman dia sebenarnya adalah iman kejawen, yaitu ajaran tradisional Jawa. Banyak yang jenisnya seperti ini. Orang-orang di kampung saya dulu secara tradisional adalah orang-orang Islam, tapi banyak yang melakukan praktik ritual yang tidak diajarkan dalam Islam, seperti memberi sesaji. 

Iman pun berbeda-beda pula levelnya. Ada yang sekadar percaya bahwa Tuhan itu ada, terdaftar secara administratif sebagai penganut agama tertentu, tapi tidak pernah peduli dengan hal-hal terkait ritual ibadah. Adakah yang rajin ibadah tapi sebenarnya tidak beriman? Ada. Karena tekanan keluarga? Itu salah satu contohnya. Tapi tidak selalu begitu. Ada yang menjalankan kebiasaan saja. Ada yang menjalankan ritual sebagai eskpresi rindu pada orang tuanya yang sudah tiada. Ada kawan saya yang sejak muda saya tahu tidak beriman, tapi sekarang lumayan rajin salat. "Suatu hari aku mimpi ketemu almarhum ibuku, dia menyuruh aku salat," katanya.

Jadi, bagaimana kita bisa tahu soal apa yang diimani seseorang? Tidak bisa. Ada kawan saya yang menyatakan kafir. Tapi karena tekanan keluarga, ia bersyahadat kembali. Pada saat ia hendak bersyahadat, ustaz pembimbingnya mengatakan,"Yang kami bisa saksikan hanyalah pernyataan iman kamu secara lisan. Iman kamu yang sebenarnya, hanya kamu yang tahu."

Jadi, kalau Anda berpikir, menduga-duga, mencari tahu soal iman seseorang, iman yang sebenarnya, ketahuilah bahwa Anda sedang melakukan perbuatan sia-sia. Tidak ada seorang pun bisa tahu apa sebenarnya yang diimani seseorang. Apalagi bila Anda hanya mencoba menafsirnya dari perayaan hari besar seperti Lebaran atau Natal. Itu sungguh konyol. Perayaan hari besar agama bagi sebagian orang adalah ritual suci, tapi bagi orang lain hanyalah perayaan budaya. Orang-orang Jepang itu banyak yang merayakan Natal tanpa mengenal Yesus. Menyebut nama Yesus dalam perayaan saja pun mereka tidak lakukan.

Sederhananya ada ungkapan:"Getting into a church does not make someone a christian, as getting into a garage does not make someone a car."

PARA PENJUAL GELAR KETURUNAN NABI



Alkisah Nabi Nuh as selesai membangun kapal besarnya..

Ia lalu mengajak masyarakat disana untuk naik, karena akan ada banjir besar yang datang dan menenggelamkan semua disekitarnya.

Tapi, anaknya yang bernama Kan'an, menolak. Dia tidak mau ikut ayahnya yang dianggap banyak orang sebagai "orang gila". Istrinya Nabi Nuh as pun begitu.

Dia malu dengan suaminya dan menolak untuk naik kapal..

Dan kita sudah tahu apa akhir ceritanya. Banjir besar datang, anak dan istri Nabi Nuh as itu tenggelam bersama orang2 yang tidak percaya kepada beliau.

Siapa yang selamat ? Ada 80 orang pengikut yang rata2 orang miskin dan lemah. Mereka masyarakat biasa.

Sejak lama saya membuka pemahaman saya tentang Kitab Suci, bahwa didalam sana sarat sekali pesan dan makna yang dalam tentang kehidupan yang dibalut oleh peristiwa.

Jadi, Kitab Suci bukan hanya dibaca saja atau dihapalkan. Yang lebih penting adalah mampu tidak kita memahami makna pesan di dalamnya ?

Kisah Nabi Nuh as itu relevan dengan situasi sekarang, dimana ada orang2 yang mengaku sebagai "keturunan Nabi" dan menjual gelar kehabibannya kemana2 untuk memperkaya dirinya sendiri. Lucunya, banyak juga orang mendewakan mereka, hanya karena garis keturunan saja.

Padahal dalam kisah Nabi Nuh as, terlihat Tuhan tidak membedakan keturunan apa bukan, istri apa bukan. Kalau dia durhaka, ya habis ditelan gelombang. Dan yang selamat justru mereka yang bukan siapa-siapa.

Lalu, apa yang mau dibanggakan dengan gelar "habib" atau "keturunan Nabi" jika Tuhan saja tidak memilih manusia itu berdasarkan "siapa dia" tetapi "apa yang diperbuatnya" ?

Salah kaprah gelar habib yang kemudian dikapitalisasi demi keuntungan pribadi, membuat lahir manusia2 bodoh dengan pemahaman kering, karena mereka sejak kecil selalu di doktrin. Keturunan Nabi seolah jadi dewa dan tidak pernah salah.

Fanatisme sempit ini memang sengaja diciptakan untuk membangun pasukan2 mereka. Menciptakan robot2 massa demi kepentingan dunia.

Tapi Tuhan juga tidak "tinggal diam". Dibongkarlah satu persatu kedok2 mereka yang menjual2 nama kekasihNya, dengan aib sehingga menjadi olokan banyak orang.

Dan dari sana akhirnya muncullah jenis2 habib. Ada habib Firza. Ada habib sebat dulu. Dan yang terakhir muncul lagi habib Camry.

Alam sedang bekerja membuka mata banyak orang dengan peristiwa2. Mirip dengan kisah di Kitab Suci, hanya dipoles sesuai zamannya..

Sudah buka, bisa seruput kopi kali ini..

Denny Siregar