Kamis, 14 Mei 2020

Pogrom, Mengapa Yahudi Diburu dan Dianiaya?


Pogrom, Mengapa Yahudi Diburu dan Dianiaya?
Potret kecil pogrom terhadap komunitas Yahudi di pedesaan Rusia pada abad ke-19.
Sumber

Pogrom adalah kekerasan atau kerusuhan sistematis yang diiringi pembantaian dan penganiayaan dari kelompok etnis atau agama tertentu terhadap kelompok lainnya. Biasanya pogrom turut menghancurkan lingkungan, rumah, tempat usaha, pusat keagamaan, dan bangunan-bangunan lain yang berhubungan dengan kelompok tertentu.

Terkadang pogrom melibatkan otoritas pemerintah setempat, baik secara spontan atau terencana. Sebetulnya istilah pogrom awalnya ditujukan untuk serangan terhadap etnis Yahudi di wilayah Kekaisaran Rusia pada abad ke-19 dan ke-20. Serangan serupa juga bisa terjadi di waktu dan tempat yang lain, tak harus di wilayah Kekaisaran Rusia.

Seiring perkembangan waktu, istilah pogrom meluas tak hanya untuk Yahudi, tapi juga untuk kelompok etnis atau agama lainnya. Umumnya yang menjadi korban adalah kelompok minoritas, seperti kasus pogrom terbaru di India bagian utara yang menewaskan puluhan umat Muslim India. Meskipun begitu, istilah pogrom tetap identik dengan kekerasan terhadap etnis Yahudi.

Pogrom, Mengapa Yahudi Diburu dan Dianiaya?
Pogrom anti-Islam di India bagian utara pada tahun 2020.
Sumber

Istilah pogrom pertama kali muncul pada tahun 1882, berasal dari bahasa Rusia,погрóм yang berarti “untuk menghancurkan” atau “untuk mendatangkan malapetaka”. Penggunaan istilah tersebut meluas ke seluruh dunia dimulai dari kekerasan anti-Yahudi di wilayah Kekaisaran Rusia pada tahun 1881-1883.

Namun, sebetulnya kekerasan terhadap Yahudi sudah ada sejak zaman kuno. Sentimen tersebut bisa ditelusuri pada abad ke-3 SM di Alexandria, Mesir yang menjadi rumah bagi komunitas Yahudi terbesar di dunia pada zaman itu. Masyarakat Mesir Helenistik kerap menertawakan praktik dan hukum Yudaisme yang dinilai absurd dan tak masuk akal. Hal tersebut yang menjadi alasan firaun Ptolemy I Soter menginvasi Yerusalem pada tahun 320 SM.

Ptolemy I Soter adalah sahabat Alexander Agung yang memperoleh jatah Mesir. Ia mendirikan Dinasti Ptolemeus yang mengubah Mesir menjadi kerajaan Helenistik dan menyulap Alexandria menjadi salah satu pusat kebudayaan Yunani.

Pogrom, Mengapa Yahudi Diburu dan Dianiaya?
Gambaran perpaduan budaya Helenistik dengan Yudaisme.
Sumber

Kekerasan yang terjadi di Alexandria merupakan sikap xenofobia (ketidaksukaan dengan hal asing). Masyarakat Mesir Helenistik tak menyukai etnis Yahudi yang cenderung menolak standar agama dan sosial Yunani. Di sisi lain, ajaran Yudaisme yang monoteisme (percaya hanya dengan satu Tuhan) menganggap masyarakat Mesir Helenistik kurang tercerahkan karena memuja banyak dewa. Banyak persekusi menimpa etnis Yahudi di zaman tersebut, mulai dari penodaan terhadap tempat ibadah sampai pelarangan praktik keagamaan, seperti sunat, ritual Shabbat, kajian kitab Yahudi, dll.

Pogrom, Mengapa Yahudi Diburu dan Dianiaya?
Lukisan oleh Francesco Hayez (1867) yang menggambarkan penghancuran kuil Yahudi di Yerusalem saat pendudukan Romawi pada tahun 66-73 M.
Sumber

Memasuki era-Romawi, eksistensi Yahudi mengalami pasang-surut. Sesekali etnis Yahudi bermusuhan dengan pendudukan Romawi yang berujung pemberontakan. Menurut sejarawan Inggris abad ke-18, Edward Gibbon, periode yang lebih toleran antara Romawi dan Yahudi baru dimulai sekitar tahun 160.

Romantisme hubungan Romawi-Yahudi selesai saat Kristen menjadi agama utama Romawi pada tahun 380. Persekusi menjadi lebih brutal karena Yahudi dianggap bertanggung jawab atas penyaliban Yesus. Era berikutnya menjadi pengembaraan Yahudi ke beberapa wilayah di Eropa karena terusir dari tanah airnya.

Seorang penulis dan sejarawan Amerika Serikat, James Carroll berpendapat bahwa pada zaman itu sekitar 10% populasi Kekaisaran Romawi adalah etnis Yahudi. Dengan rasio tersebut, tentu banyak pogrom dan pemaksaan pindah agama (konversi) yang terjadi. Sebab jika tak ada perburuan dan penganiayaan, modern ini populasi Yahudi pasti sudah mencapai 200 juta orang, bukan 13 juta orang.

Pogrom, Mengapa Yahudi Diburu dan Dianiaya?
Karikatur anti-Yahudi pada Abad Pertengahan.
Sumber

Kristenisasi Eropa yang meluas pada Abad Pertengahan kembali menjadi mimpi buruk bagi Yahudi. Para raja bersama gereja rajin mengeluarkan serangkaian dekret anti-Yahudi yang melarang orang Yahudi menikah dengan orang Kristen, serta pelarangan praktik keagamaan. Sepanjang abad ke-6 dan ke-7, bangsa Visigoth di Spanyol yang baru saja memeluk Kristen, meningkatkan agresi sosial terhadap etnis Yahudi. Bentuknya beragam, mulai dari konversi, perbudakan, pengasingan, atau kematian.

Pada waktu yang sama, Islam mulai tumbuh di Mekkah dan Madinah yang terus berkembang hingga mencapai Zaman Keemasan Islam (abad ke-8 sampai ke-14). Islam mengklasifikasi non-Muslim sebagai dzimmi, orang yang dilindungi atas imbalan jizya(pajak bagi non-Muslim). Hal tersebut memungkinkan etnis Yahudi menjalankan agama mereka lebih bebas saat Islam menaklukkan Spanyol pada tahun 711.

Pada tahun 929, Kekhalifahan Cordoba berdiri setelah hampir dua abad menjadi bawahan Dinasti Umayyah. Di bawah kekuasaan Islam, Yahudi sempat mencapai puncak kebudayaan hingga abad ke-11. Kekhalifahan Cordoba yang menjadi penerus Dinasti Umayyah bertahan selama 102 tahun sampai akhirnya runtuh pada tahun 1031 akibat perang saudara antara keturunan khalifah terakhir, Hisyam II melawan kubu pro-penasihat kekhalifahan, al-Mansur. Kekhalifahan Cordoba pecah menjadi beberapataifa (kerajaan), salah satunya adalah Taifa Granada.

Pogrom, Mengapa Yahudi Diburu dan Dianiaya?
Lukisan pada abad ke-13 yang menggambarkan kerukunan antara Muslim dan Yahudi di Andalusia.
Sumber

Taifa Granada merupakan potret ketidakberdayaan figur penguasa Muslim yang cenderung patuh dengan dominasi Yahudi. Hampir setengah abad lamanya Yahudi menguasai segala aspek kehidupan, kecuali nama negara yang masih bercorak Islam. Status orang Yahudi di Granada tak lagi dzimmi seperti yang berlaku di pemerintahan Islam pada umumnya, bahkan dalam beberapa kasus mereka memiliki kontrol atas pasukan militer. Sesuatu yang tak pernah terjadi di mana pun dalam sejarah diaspora Yahudi.

Namun, pada tahun 1066, terjadi Pembantaian Granada yang dipicu oleh intrik pembunuhan Buluggin bin Badis, anak sulung khalifah Badis bin Habus, yang kemungkinan besar diracun oleh seorang wazir (penasihat politik/menteri tingkat tinggi) Yahudi bernama Joseph ben Naghrela. Massa Muslim yang marah menyerbu istana Granada dan menyalib Joseph ben Naghrela. Berikutnya massa Muslim membantai sebagian besar orang Yahudi di kota tersebut. Lebih dari 4.000 orang Yahudi tewas dalam pogrom satu hari.

Sejak abad ke-11, Andalusia (wilayah Spanyol yang dikuasai Islam) menerapkan dzimmilebih keras. Hal tersebut membuat banyak orang Kristen dan Yahudi pindah ke arah timur (Mesir) yang lebih toleran. Sebagian yang lain menuju ke utara (Eropa) mencoba peruntungan di kerajaan-kerajaan Kristen yang sedang tumbuh.

Di lain tempat pada tahun 1096, terjadi Pembantaian Rhineland yang menargetkan etnis Yahudi di sepanjang Sungai Rhine bagian tengah, seperti Speyer, Worms, dan Mainz. Pogrom yang dilakukan oleh tentara salib dan para petani tersebut dengan cepat meluas ke beberapa wilayah lainnya, seperti Belanda, Jerman, Inggris, Perancis, dan beberapa wilayah di Eropa Timur.

Pogrom, Mengapa Yahudi Diburu dan Dianiaya?
Pembantaian Rhineland pada tahun 1096.
Sumber

Kemiripan antara orang Yahudi dan orang Arab (sama-sama rumpun Semit) turut menjadi penyebab pecahnya kekerasan. Banyak masyarakat Eropa yang menyangka orang Yahudi adalah mata-mata Islam yang dikirim ke Eropa. Pada saat itu Paus Urbanus II memang baru saja menyatakan Perang Salib Pertama untuk membantu Kekaisaran Romawi Timur (Byzantium) melawan Turki Seljuk yang menghalangi peziarah Eropa berkunjung ke Yerusalem.

Di sisi lain, komunitas Yahudi di Rhineland memang relatif kaya karena bisnis peminjaman uang. Hal wajar sebab ketika itu hanya Yahudi yang membolehkan praktik riba (Islam dan Kristen melarang keras). Persepsi sombong dan serakah pun muncul dan selama berabad-abad menjadi salah satu faktor utama sikap anti-Yahudi.

Ramai masyarakat Eropa yang terlibat rentenir, seperti tentara salib yang terjebak utang untuk membeli persenjataan dan peralatan atau kaum petani yang terpaksa meminjam uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal itulah yang menjadi pembenaran untuk membunuh orang Yahudi agar utang-utang mereka hilang, terlepas faktor dasar bahwa Yahudi bertanggung jawab atas penyaliban Yesus.

Kebiasaan komunitas Yahudi yang eksklusif dan kurang berbaur turut menimbulkan prasangka buruk bahwa mereka adalah penyihir. Pada saat itu banyak masyarakat Eropa percaya kalau penyihir Yahudi suka menangkap anak-anak Kristen guna diambil darahnya untuk ritual kejahatan.

Sebelum dua tragedi besar di Granada dan Rhineland, komunitas Yahudi di seluruh dunia terkonsentrasi ke dalam tiga wilayah: 1) Komunitas Yahudi di wilayah kekuasaan Islam, 2) Komunitas Yahudi di Eropa, dan 3) Komunitas Yahudi di wilayah Kekaisaran Romawi Timur (Byzantium). Masing-masing komunitas cenderung independen dan berjalan sendiri-sendiri, sampai kemudian Pembantaian Rhineland 1096 menyadarkan mereka bahwa harus ada rasa senasib dan sepenanggungan.

Sejak inilah orang Yahudi mendambakan pulang ke kampung halaman di Palestina. Selama berabad-abad mereka menyelipkan doa saat makan dan menjelang tidur bahwa suatu hari nanti akan ada “rumah” untuk tempat mereka mencari rasa aman. Pada akhir abad ke-19, mayoritas tokoh-tokoh penting Yahudi menggunakan Pembantaian Rhineland 1096 sebagai wacana membentuk sebuah negara Yahudi.

Pogrom, Mengapa Yahudi Diburu dan Dianiaya?
Penganiayaan Black Death Yahudi pada tahun 1348-1351.
Sumber

Selanjutnya komunitas-komunitas Yahudi di Eropa terus menjadi sasaran pogrom. Pada tahun 1348-1351, terjadi Penganiayaan Black Death Yahudi yang dituduh sebagai penyebab Black Death. Alasannya ketika itu orang Yahudi cenderung kebal dan terbebas dari wabah Black Death. Padahal kekebalan mereka adalah imbas pengasingan dari masyarakat Eropa itu sendiri. Mayoritas komunitas Yahudi dipaksa tinggal di dalam ghetto, permukiman khusus orang Yahudi. Hal tersebut menjadi social distancing alami yang mencegah orang Yahudi terpapar wabah Black Death.

Pogrom, Mengapa Yahudi Diburu dan Dianiaya?
Ghetto, permukiman khusus orang Yahudi. Biasanya kawasan ini dikurung tembok untuk membatasi ruang gerak mereka.
Sumber

Selain itu, ajaran Yudaisme yang mengamalkan adab-adab kebersihan berhasil menciptakan risiko kecil penularan Black Death, seperti mencuci tangan sebelum makan, mencuci tangan berkali-kali setelah BAB, mandi sebelum ritual Shabbat, dan praktik memandikan jenazah sebelum dimakamkan.

Tercatat pogrom akibat Black Death terjadi di Toulon (1348), Strasbourg (1349), Erfurt (1349), Basel (1349), Freiburg (1349), Brussels (1350), dll. Kekerasan terus menimpa komunitas Yahudi di beberapa wilayah Eropa, meskipun wabah Black Death selesai. Dari sekian banyak kekerasan dan penganiayaan terhadap etnis Yahudi, Pembantaian 1391 adalah yang terbesar selama Abad Pertengahan. Raja-raja Kristen di Spanyol yang sukses merebut kembali Semenanjung Iberia dari tangan Islam, melakukan konversi secara menyeluruh. Orang Islam dan Yahudi diberikan dua pilihan sulit: beralih ke Kristen atau keluar dari Spanyol.

Sebagian besar orang Islam dan Yahudi pada akhirnya beralih ke Kristen yang melahirkan identitas baru: conversos (konversi/pemaksaan pindah agama). Conversosterbagi menjadi dua: Moriscos (masyarakat Islam yang konversi ke Kristen) danMarranos (masyarakat Yahudi yang konversi ke Kristen).

Pogrom, Mengapa Yahudi Diburu dan Dianiaya?
Para conversos meninggalkan Semenanjung Iberia.
Sumber

Walaupun begitu, kekerasan dan penganiayaan tetap menimpa para conversos yang dianggap kurang ikhlas memeluk Kristen, seperti Pembantaian Lisabon 1506. Mereka pun memutuskan kabur dari Semenanjung Iberia menuju wilayah kekuasaan Turki Utsmaniyah atau Eropa Barat yang sudah agak toleran.

Pada tahun 1563, juga terjadi Pogrom Polotsk di sebelah utara Belarusia ketika penguasa Rusia, Ivan IV Vasilyevich menaklukkan wilayah Baltik. Raja yang mendapat julukan Ivan the Terrible (Ivan yang mengerikan) ini membunuh semua etnis Yahudi yang menolak konversi ke Kristen Ortodoks dengan cara menenggelamkannya ke Sungai Daugava.

Pada tahun 1648-1657, terjadi Pemberontakan Khmelnytsky di wilayah timur Persemakmuran Polandia-Lithuania (sekarang Ukraina, Belarusia, Moldova, dan Rusia). Orang Cossack dibantu Tatar Krimea dan petani Ukraina mencoba melawan dominasi Persemakmuran Polandia-Lithuania. Pemberontakan tersebut diiringi kekerasan sipil yang menimpa komunitas Katolik Roma dan Yahudi. Sejarawan modern memperkirakan korban tewas berkisar antara 40.000-100.000 orang yang terdiri dari pria, wanita, dan anak-anak.

Pogrom, Mengapa Yahudi Diburu dan Dianiaya?
Yekaterina II atau Catherine yang Agung.
Sumber

Pada abad ke-18, Rusia muncul sebagai kekuatan baru Eropa di bawah kepemimpinan Yekaterina II. Wilayah kekuasaan Rusia melonjak berkali-kali lipat lewat serangkaian perang dan penaklukan atas Persemakmuran Polandia-Lithuania dan Turki Utsmaniyah yang menimbulkan efek samping keberlimpahan komunitas Yahudi dari kedua wilayah tersebut.

Sebuah entitas politik baru yang disebut Chertá Osyédlosti terbentuk di wilayah barat perbatasan Rusia-Polandia pada tahun 1791. Chertá Osyédlosti mencakup wilayah Belarusia, Lithuania, Moldova, sebagian besar Ukraina, Polandia bagian timur, Latvia bagian timur, dan sedikit Rusia bagian barat. Pada tahun 1791, Yekaterina II tetap mengizinkan orang Yahudi menetap di sana.

Pogrom, Mengapa Yahudi Diburu dan Dianiaya?
Kawasan Chertá Osyédlosti atau Pale of Settlement.
Sumber

Pada saat itu keadaan di Chertá Osyédlosti dianggap suram. Orang-orang kaya memilih bermigrasi ke Amerika Serikat atau kawasan Eropa lain yang lebih menjanjikan. Di sisi lain, kebudayaan Yiddish (Yahudi di Jerman dan Eropa Timur) justru mendapat tempat positif. Agama dan ilmu pengetahuan secara harmoni mengembangkan hal-hal bersifat intelektual yang menciptakan kaum cendekiawan Yahudi. Dari sini pula muncul stereotip Yahudi cerdas yang melahirkan tokoh-tokoh penting dunia. Pada masanya,Chertá Osyédlosti adalah rumah bagi 40% populasi Yahudi di seluruh dunia.

Namun, kecemburuan sosial akhirnya terbit kembali. Persekusi terhadap etnis Yahudi yang pada umumnya mapan dan terdidik terjadi di mana-mana. Pogrom pertama terjadi di Odessa, Ukraina pada tahun 1821, menewaskan 14 etnis Yahudi. Odessa sebagai kota pelabuhan penting di Laut Hitam memiliki rivalitas ekonomi antara etnis Yunani dan Yahudi. Selain itu, etnis Yunani menuduh etnis Yahudi mendukung Turki Utsmaniyah dalam Perang Kemerdekaan Yunani. Pogrom terjadi beberapa kali: tahun 1821, 1859, 1871, dan 1905. Etnis Rusia yang juga tak suka dengan etnis Yahudi ikut andil dalam beberapa pogrom.

Pada tanggal 13 Maret 1881, terjadi peristiwa pembunuhan Tsar Alexander II oleh kelompok Narodnaya Volya. Salah satu pelaku yang berdarah Yahudi menyulut kemarahan kubu pro-Tsar. Gelombang besar kekerasan terhadap Yahudi melanda hampir seluruh bagian barat daya Rusia (sekarang Polandia dan Ukraina).



Download GTA San Andreas Mobile

Pogrom, Mengapa Yahudi Diburu dan Dianiaya?
Pogrom Odessa tahun 1905.
Sumber

Banyak media Rusia yang membesar-besarkan peran Yahudi dalam pembunuhan Tsar Alexander II sebab Narodnaya Volya sesungguhnya adalah sebuah organisasi revolusioner sosialis, bukan Yahudi. Pemerintah pun mengeksploitasi sikap anti-Yahudi untuk memberangus gerakan revolusioner. Pada tahun 1881-1884, lebih dari 200 peristiwa anti-Yahudi terjadi di wilayah Kekaisaran Rusia, terutama pogrom di Kiev, Warsawa, dan Odessa. Hal tersebut menyebabkan imigrasi besar-besaran Yahudi Rusia yang sebagian besar menuju ke Amerika Serikat.

Memasuki abad ke-20, kekerasan terhadap Yahudi tak kunjung mereda. Pogrom berskala besar di Rusia semakin intensif usai Perang Dunia I ketika kaum Bolshevik (sosialis) di bawah pimpinan Vladimir Lenin melawan Pemerintah dalam Perang Saudara Rusia (1917-1922). Pada tahun 1918-1919, lebih dari 1.200 pogrom terjadi hanya di Ukraina saja, menyebabkan pembantaian etnis Yahudi terbesar di Eropa Timur sejak tahun 1648.

Pada 8 Agustus 1919, selama Perang Polandia-Uni Soviet, pasukan Polandia membunuh 31 orang Yahudi di Minsk, Belarusia yang dicurigai sebagai simpatisan Bolshevik. Dibantu warga sipil setempat, 377 toko milik Yahudi dijarah dan dihancurkan.

Sementara itu, di tempat lain juga terjadi pogrom. Pada tahun 1904, pelarian Yahudi Lithuania di Limerick, Irlandia menerima perlakuan kekerasan dari warga lokal. Pada tahun 1911, pelarian Yahudi Rusia di Tredegar, Wales juga menjadi sasaran pogrom dari warga lokal. Alasan klasik kecemburuan sosial menjadi pemicu utama.

Di luar Eropa, pogrom terjadi di Argentina dan beberapa wilayah di Timur Tengah. Pada tanggal 7-14 Januari 1919, terjadi kerusuhan di Buenos Aires yang dikobarkan oleh kaum anarkis dan komunis. Banyak pihak menjadi korban, salah satunya adalah etnis Yahudi.

Pada tanggal 24 Agustus 1929, terjadi Pembantaian Hebron di Palestina. Sebelumnya konflik antara Arab dan Yahudi di Palestina telah meningkat sejak Deklarasi Balfour 1917 ketika kolonial Inggris mendukung pembentukan “rumah nasional” bagi etnis Yahudi. Konflik semakin mendidih saat pertengahan Agustus 1929, ratusan nasionalis Yahudi di Hebron berbaris menuju ke Tembok Barat, kota tua Yerusalem sambil mengibarkan bendera Bintang David. Rumor beredar kalau para pemuda Yahudi menyerang orang Arab dan mengutuk Rasulullah Muhammad SAW. Banyak etnis Arab yang mengira bahwa para pemuda tersebut hendak menyerang Masjidil Aqsa.

Pogrom, Mengapa Yahudi Diburu dan Dianiaya?
Sekelompok orang Yahudi hendak memakamkan korban Pembantaian Hebron.
Sumber

Hari berikutnya tanggal 17 Agustus 1929, seorang pemuda Yahudi tewas ditikam pemuda Arab. Pihak berwenang gagal memadamkan kekerasan yang berujung pembantaian 67 orang Yahudi di Hebron. Tragedi ini memicu balasan serupa dari etnis Yahudi di wilayah lain yang menjadi serangkaian kerusuhan sepanjang bulan Agustus 1929. Diperkirakan sekitar 133 orang Yahudi dan 116 orang Arab tewas dalam insiden di Palestina. Pembantaian Hebron mengakhiri kehadiran etnis Yahudi yang selama berabad-abad hidup di kota tersebut. Pogrom ini melatarbelakangi pembentukan Haganah (organisasi paramiliter Yahudi) yang menjadi cikal-bakal Angkatan Bersenjata Israel.

Sementara itu, Adolf Hitler bersama partai Nazi sukses meraih puncak kekuasaan di Jerman. Pogrom pertama terjadi pada tanggal 9-10 November 1938 yang populer dengan sebutan Kristallnacht. Kerusuhan meletus serentak di seluruh Jerman, Austria, dan Sudetenland (wilayah Cekoslowakia yang berbahasa Jerman) yang menewaskan lebih dari 90 orang Yahudi.

Pogrom, Mengapa Yahudi Diburu dan Dianiaya?
Seorang perempuan Yahudi dipersekusi saat Pogrom Lviv 1941.
Sumber

Sekitar 30.000 orang Yahudi ditangkap dan dikirim ke kamp konsentrasi. Perusuh menghancurkan 267 sinagog (tempat ibadah Yahudi) dan lebih dari 7.000 toko atau bisnis milik Yahudi dirusak. Kerusuhan anti-Yahudi berkembang menjadi holocaust(genosida massal etnis Yahudi) yang menewaskan sekitar 6 juta orang Yahudi selama Perang Dunia II.

Serangkaian insiden anti-Yahudi tetap terjadi setelah Perang Dunia II. Etnis Yahudi yang berusaha kembali ke daerah asal mereka (khususnya di Eropa Timur), mendapatkan penindasan berupa perampasan hak rumah atau tanah.

Sementara itu, Zionis kian menguat setelah berhasil mengungguli Arab Palestina dalam Perang Saudara Palestina (1947-1948). Pemberontakan keras kelompok bawah tanah Yahudi pada akhirnya mengubah opini Inggris terkait Palestina. Lewat pernyataan resmi, Inggris yang kewalahan memutuskan menarik pulang seluruh pasukannya pada tanggal 1 Agustus 1948, setelah sebelumnya menyerahkan mandat kepada PBB terhitung tanggal 15 Mei 1948. Beberapa saat sebelum mandat Inggris berakhir, Zionis mendeklarasikan Kemerdekaan Israel pada tanggal 14 Mei 1948.

Pogrom, Mengapa Yahudi Diburu dan Dianiaya?
Peristiwa Nakba 1948, sekitar 700.000 etnis Arab Palestina terusir dari kampung halaman mereka.
Sumber

Hanya beberapa jam setelah mendeklarasikan kemerdekaan, Israel diserbu oleh gabungan kekuatan Mesir, Transyordan, Suriah, dan Irak yang mengawali Perang Arab-Israel 1948. Hal tersebut menyulut pogrom di sebagian besar wilayah Timur Tengah. Etnis Arab membalas perlakuan Yahudi terhadap saudara mereka Arab Palestina yang terusir dari kampung halamannya.

Eksodus besar-besaran etnis Yahudi ke Israel terjadi selama konflik Arab-Israel dan baru berakhir pada awal 1970-an. Gelombang imigrasi besar terakhir datang dari Iran imbas Revolusi Islam Iran 1979.

Pogrom, Mengapa Yahudi Diburu dan Dianiaya?
Potret pengungsi Yahudi Yaman yang eksodus ke Israel.
Sumber

Total sekitar 900.000 etnis Yahudi meninggalkan negara-negara Arab. Sekitar 600.000 orang pindah ke Israel dan 300.000 sisanya memutuskan bermigrasi ke Eropa atau Amerika Serikat.

Pada tahun 2014, organisasi non-pemerintahan Yahudi internasional yang berbasis di Amerika Serikat, ADL melakukan penelitian tentang sikap anti-Yahudi. Dilaporkan sekitar 75% Muslim di Timur Tengah dan Afrika Utara memiliki pandangan anti-Yahudi. Sementara itu, sekitar 27% masyarakat global yang belum pernah bertemu orang Yahudi menyatakan memiliki prasangka kuat terhadap Yahudi.



Download GTA San Andreas Mobile

Sejarah para ulama Nusantara

Banyak ulama dari nusantara yang menjadi ulama populer di kalangan ulama timur tengah, bahkan rata-rata dari mereka mengajar dan menjadi imam di masjidil haram Makkah.

Salah satu diantara mereka adalah Syaikh Junaid Al-Batawi, ia adalah seorang ulama dari Betawi yang mendunia mengenalkan Betawi dan faham beragama di Indonesia kepada negara-negara di timur tengah.

Syaikh Junaid Al-Batawi merupakan ulama asal indonesia yang pertama berkesempatan menjadi imam masjidil haram Makkah dan menjadi syaikhul masyaikh atau gurunya para guru.

Alasan beliau menjadi syaikhul masyaikh atau gurunya para guru adalah beliau memiliki murid yang menjadi ulama hebat di indonesia maupun di berbagai manca negara, salah satu murid beliau yang terkenal adalah syaikh Nawawi Al-Bantani, pengarang kitab Tafsir Munir dan ratusan kitab lainya.

Syaikb Nawawi Al-Bantani berasal dari daerah Tanara Serang Banten, beliau adalah ulama hijjaz atau ulamanya para ulama timur tengah, beliau juga menjadi seorang pengajar dan imam dimasjidil haram makkah.

Keilmuan beliau sudah tidak diragukan lagi beliau adalah orang hebat yang sangat populer di kalangan ulama timur tengah pada saat itu.

Syaikh Yasin Al-Padangi
Beliau berasal dari padang, beliau juga banyak mengarang kitab yang menjadi rujukan dari berbagai kitab karangan ulama timur tengah, beliau pun turut menjadi pengajar dan imam dimasjidil haram.



Download GTA San Andreas Mobile

History Atjeh



"Ciri - ciri antara Pribumi Aceh dan pendatang"


Akan "Brat panik biek2 Impor di bumoe Aceh" biek pangtibang keubah, biek belanda keubah.biek jepang keubah keubah.biek daud beureu'eh keubah.biek malek mahmud impor.biek jawa indonesia impor.

Biek-biek kamoe bansa Aceh Slow Mantoeng, Atra droe, Nanggroe droe, Rakyat droe, Idiology droe, bahasa droe, adat dan budaya droe, sjedara droe, Gasin2 kamoe kon biek Meugadee bak penjajah jawa.

Umun jieh yang duk di Aceh yang meugadee bak penjajah indonesia jawa nyan umum jieh kon biek Aceh, mereka itu nakeuh biek lamit belanda, lamit jepang, lamiet indonesia jawa keubah Lam bumoe Aceh.

"Yang Beutoi Golom Teuntee meu Adab, Yang Meu Adap Golom teuntee Beutoi".

Biek keuneubah gop, jeut neu Tanda laju, asai ka tabahas peukara kiban cara tjok Nanggroe, kiban cara peugot perjuangan yang beutoh ateuh Rauh Endatu teuh? langsung ji tentang le mereka itu, langsung ang ing, ji tubit statemen awak nyan, sereng ji Kheun: kita sama -sama saudara islam, kita sama -sama bangsa Aceh, kita sama- sama pejuang, kita Acehkan tetah Damai, dll.Itu bagian ciri-ciri mereka itu.!

Wate ji basmi ummat Islam Aceh kurun wate 1950- 2020 nyoe, ateuh dalih kesatuan Nkri uuda 45 dan Pancasila. Hana tingat yang ji basmi Ummat Islam Aceh jikoh taku di tik bineh jalan pupaleh PKI penganut pancasila.

Wate ji kheun sesama Aceh, sang nyoe raya, wate jih mat kuasa kheun keu pejuang laen, lage kaum beut Gerombolan awak malek,( Gam) klem gop cu'ak, klem gop Mp.gam, klem hana ikot peuntoh keumando ka bailot, dll. Leuh nyan peupoh rakan seperjuangan yang hana ateuh Hak berdasar perjuangan dan Hukum Allah. Padahal beut jih sejak 2002 hingga 2020 nyoe leubeh nibak penjajah ji peulaku keu Rakyat dan bangsa Aceh. Jadi hana jut ta teurimong le geu tanyoe pejuang dan bangsa Aceh. Beut jeuheut Malek mahmdu nyan.

Kita sama pejuang khuen, padahal awak nyan kajut keu biek pengkhianat, hana akui droe lom sebagai pengkhianat, padahal khianat perjuangan dan agama ka phak luyak beut awak nyan secara berjama'ah hana jikira dro pengkhianat lom, pu paleh beut biek meunan.

Bek peugot karu le hai, Aceh kadamai, yang meu damai dengon musoh, dan kasajan musoh nakeuh bagian Musoh, sebab Pejuang han akan geu meurakan ngon musoh bangsa geuh. Kebutulan yang meu damai bak,15 . 08. 2005 Antara kelompok GAM malek mahmud dengan Penjajah RI.. bukan atas nama pejuang dan bangsa Aceh.

Meunan bacut ringkasan keu peukara yang meunan- meunan dari mereka itu.
Perjuangan Aceh Hak milik para pejuang dan bangsa Aceh.bukan milik pecundang.

Meutanda Jaroe.

By.Pejuang Negara Aceh Darussalam
Dalam Nanggroe pusaka keuneubah Endatu.History Atjeh

Jumat, 08 Mei 2020

Abu Lubabah bin Mundzir Menaati Perintah Rasulullah


[Sahabat Nabi] Abu Lubabah bin Mundzir Menaati Perintah RasulullahIlustrasi Photo by Isa Sebastião from Pexels


Abu Lubabah bin Abdul Mundzir radhiyAllahu ‘anhu termasuk Sahabat Nabi saw dari kalangan Anshar, yang baiat dimasa awal. Beliau seorang pemuka dari Qabilah Aus yang taat kepada perintah Rasulullah saw.

Suatu peristiwa terjadi, saat beliau menemui Banu Quraizhah dalam benteng mereka. Peristiwa itu mungkin merupakan ujian terberat selama hidup beliau dalam menaati perinta Rasulullah saw.  

Biografi Abu Lubabah


Istri beliau bernama Khansa binti Khandam, mereka dikarunia seorang anak perempuan bernama Lubabah. Karena itu beliau mendapat panggilan Abu Lubabah.


Terdapat perbedaan pendapat perihal nama asli Abu Lubabah. Sebagian menyebutnya Basyir, menurut Ibnu Ishaq namanya Rifa’at, menurut Allamah Zamakhsyari bernama Marwan.


Beliau termasuk kelompok pertama yang masuk Islam, termasuk kedalam 12 naqib dan ikut serta dalam baiat Aqabah. Beliau juga salah seorang Anshar yang menghadiri biat Aqabah kedua.


Diantara para Sahabat Nabi saw, terdapat dua orang sahabat yang rumahnya paling jauh, yaitu Abu Lubabah yang rumahnya terletak di Quba dan kedua, rumah Abu Abbas bin Jabriyah yang tinggal di Qabilah Banu Haritsah. Namun mereka berdua selalu datang untuk shalat Ashar bersama dengan Hadhrat Rasulullah saw.


Penghidmatan


Abu Lubabah selalu menyertai Hadhrat Rasulullah saw dalam berbagai peperangan, termasuk perang Badr, Uhud dan perang Khandaq.


Ketika perang Badr, pada saat meninggalkan Madinah, Rasulullah saw menetapkan Ummi Maktum sebagai pejabat sementara Amir, namun ketika pasukan Islam sampai di dekat daerah Rauha yang berjarak 36 mil dari Madinah, mungkin disebabkan karena Abdullah Ummi Maktum seorang tuna netra dan ada kabar kemungkinan datangnya pasukan Quraisy untuk itu diharapkan pengaturan di Madinah kokoh, sehingga akhirnya beliau saw menunjuk Abu Lubabah sebagai Amir Madinah dan memulangkannya.


Rasulullah saw memerintahkan agar Ummi Maktum untuk ditugaskan sebagai imam shalat saja, sedangkan untuk pemerintahan dibebankan kepada Abu Lubabah. Akhirnya Abu Lubabah kembali lagi ke Madinah setelah menempuh setengah perjalanan.


Meskipun Abu Lubabah tidak ikut dalam pertempuran Badr, Hadhrat Rasulullah saw menetapkan bagian untuk Abu Lubabah dari harta rampasannya, dengan demikian beliau juga termasuk Sahabat Badr atau veteran perang Badr.


Saat perjalanan menuju ke perang Badr itu, setiap tiga orang menunggangi satu ekor unta secara bergantian. Abu Lubabah, Ali bin Abi Thalib dan Rasulullah saw menunggangi satu ekor unta.


Pada saat tiba giliran Rasulullah saw untuk berjalan, keduanya berkata, “Biar kami saja yang berjalan.” Beliau saw bersabda, “Kalian berdua tidaklah lebih kuat dari aku. Aku pun masih memerlukan pahala, lebih dari yang kalian berdua perlukan.”


Pada perang Qainuqa dan Sawik, Abu Lubabah mendapatkan kemuliaan untuk mewakili Hadhrat Rasulullah saw di Madinah. Pada saat Fatah Mekah, beliau menyertai Hadhrat Rasulullah saw dalam kendaraan. Di tangan beliau terdapat panji kabilah Ansar, Amar bin Auf.



Download GTA San Andreas Mobile

Penghianatan Banu Quraizhah


Pada tahun ke-5 Hijriah, setelah selesai dari perang Khandaq, Hadhrat Rasulullah saw kembali ke kota.
Baru saja Rasulullah saw menurunkan senjata dan lain-lain dengan susahnya dan selesai mandi dan berbasuh, beliau mendapatkan kabar ghaib dari Allah melalui kasyaf bahwa sebelum diputuskan perihal pembangkangan dan pemberontakan Banu Quraizhah, hendaknya beliau jangan dulu menurunkan senjata.


Oleh karenai beliau saw memerintahkan kepada pasukan Islam untuk menuju ke benteng Banu Quraizhah. Bahkan shalat Ashar pun akan dilaksanakan di sana.


Sebagai pendahuluan, Rasulullah saw mengutus satu delegasi yang dipimpin oleh Ali bin Abi Thalib untuk menanyakan, mengapa Banu Quraizhah telah melanggar janji mereka.


Banu Quraizhah tidak menunjukkan penyesalan atau apalagi minta maaf. Sebaliknya, mereka menghina dan mengejek Ali dan anggota-anggota delegasi lainnya serta mulai melemparkan caci-maki terhadap Hadhrat Rasulullah saw dan keluarga beliau. Mereka mengatakan bahwa mereka tidak ambil perduli akan Muhammad dan tak pernah mengadakan perjanjian dengannya.


Setelah itu, Rasulullah saw pun memerintahkan pasukan Islam untuk mengepung dan menyerbu benteng Bani Quraizhah.


Pada mulanya orang Yahudi itu meberikan perlawanan dan memperlihatkan kesombongannya, namun seiring berjalannya waktu, mereka mulai merasakan kesulitan dan ketidakberdayaan yang ditimbulkan oleh kepungan umat Islam.


Akhirnya mereka bermusyawarah, membahas apa yang harus dilakukan pada saat itu. Mereka pun memutuskan untuk memanggil seorang muslim yang pernah memiliki hubungan baik dengan mereka dan sederhana, mereka beranggapan akan bisa mempengaruhinya.


Mereka berusaha mencari informasi dan nasehat dari muslim tersebut, apa yang dikehendaki oleh Rasulullah saw dari mereka. Orang yang mereka minta itu adalah Abu Lubabah.


Melaksanakan pernitah Rasulullah


Rasulullah saw pun mengizinkan Abu Lubabah untuk pergi menemui Banu Quraizhah di dalam benteng pertahanan mereka.


Para pemimpin Banu Quraizhah membuat satu rencana, ketika beliau memasuki banteng mereka, semua wanita dan anak-anak Yahudi menangis dan mengelilingi beliau untuk memberikan kesan padanya akan penderitaan dan musibah yang dirasakan mereka.


Para pemimpin Bani Quraizhah mengatakan, “Wahai Abu Lubabah, bagaimana kondisi kami sesuai dengan yang kamu lihat? Apakah kami akan keluar dari benteng kami atas putusan Hadhrat Rasulullah saw?”


Beliau langsung menjawab, “Ya kalian akan keluar namun – sembari memberikan isyarah tangan memotong leher – Hadhrat Rasulullah saw akan memerintahkan untuk membunuh kalian.”


Selama hidupnya Abu Lubabah sangat mencintai dan mentaati segala perintah Rasulullah saw, beliau salah satu Sahabat yang selalu mendapat kepercayaan dari Rasulullah saw, tapi entah mengapa pada peristiwa itu beliau berbuat kekeliruan itu. Mungkin karena tipu daya orang-orang Yahudi dan juga karena kepolosannya sehingga beliau berbuat seperti itu.


Rasulullah saw tidak pernah memerintahkan Abu Lubabah untuk mengatakan atau memberi isyarat kematian itu, Rasulullah saw juga tidak punya rencana untuk mengeksekusi orang-orang Yahudi itu.
Abu Lubabah sendiri menceritakan peristiwa itu, katanya, “Ketika teringat saya telah berkhianat kepada Allah dan rasul-Nya maka kaki saya terasa kaku.”


Abu Lubabah Menyadari Kesalahannya


Sepulang dari pengepungan benteng Bani Quraizhah, Abu Lubabah pergi ke Mesjid Nabawi dan mengikatkan diri sendiri pada tiang di masjid. beliau mengatakan, “Ini adalah hukuman untuk saya. Sebelum Allah Ta’ala menerima taubat saya, saya akan terikat terus seperti ini.”


Hadhrat Rasulullah saw sendiri sebenarnya tidak melakukan tindakan apa-apa kepada Abu Lubabah. Tetapi Abu Lubahab menyadari kesalahannya itu dan merasa sangat berdosa.


Abu Lubabah menuturkan, “Kabar perihal kepergian saya ke Banu Quraizhah dan apa yang saya lakukan di sana diketahui Hadhrat Rasulullah saw. Beliau saw bersabda, ‘Tinggalkan dia sebelum Allah Ta’ala berfirman perihal apa yang dikehendaki-Nya. Jika seandainya dia datang padaku, maka aku akan mintakan ampunan untuknya. Namun jika dia tidak datang padaku dan malah pergi, untuk itu biarkan pergi.’”


Perihal Banu Quraizhah sendiri, akhirnya mereka menolak nasihat Abu Lubabah untuk menyerahkan nasib kepada keputusan Hadhrat Rasulullah saw. Andai kata mereka menerimanya, maka hukuman paling berat yang akan mereka terima ialah pengusiran dari Medinah. Tetapi, nasib buruk mereka membuat mereka menolak putusan Hadhrat Rasulullah saw.


Abu Lubabah mengatakan, “Saya diliputi penderitaan itu selama 15 hari, saya melihat mimpi dan saya selalu mengingatnya, dalam mimpi itu bahwa kami telah mengepung Banu Quraizhah dan seolah olah saya berada di dalam lumpur yang berbau. Saya tidak dapat keluar dari lumpur itu dan hampir saja saya binasa karena baunya. Lalu saya melihat sungai yang tengah mengalir. Saya melihat diri saya tengah mandi didalamnya sehingga aku membersikan diri sendiri. Baru saya mencium bau wangi.”


Lalu beliau pergi ke hadapan Abu Bakr untuk menanyakan tabir mimpi itu. Abu Bakr menabirkan, “Anda akan menghadapi masalah yang akan membuat Anda bersedih. Lalu Anda akan dibebaskan darinya.”
Abu Lubabah mengatakan, “Ketika terikat itu saya teringat perkataan Abu Bakr dan berharap supaya taubat saya diterima.”

Allah Mengampuni Abu Lubabah


Abu Lubabah menghukum dirinya sendiri dan beliau bertobat atas kesalahan yang beliau lakukan itu. Hingga akhirnya, Allah Ta’ala memberikan keputusan, menerima taubat Abu Lubabah.


Mengenai hal itu Ummul Mu’minin Ummu Salamah menceritakan, “Kabar mengenai diterimanya taubat Abu Lubabah turun di rumah saya. Wahyu tersebut turun kepada Hadhrat Rasulullah saw pada saat sahur. Saya mendengar Hadhrat Rasulullah saw tertawa pada waktu sahur, saya bertanya: ‘Wahai Rasulullah saw, apa gerangan yang baginda tertawakan?’


Hadhrat Rasulullah saw menjawab, “Allah telah mengampuni dosa Abu Lubabah. ‘Aku bertanya kepadanya: ‘Apakah aku boleh menyampaikan berita gembira itu kepadanya?. ‘Hadhrat Rasulullah saw menjawab: ‘Boleh saja kalau kau mau’.


Ummu Salamah kemudian, sambil berdiri di pintu kamarnya – kejadian itu terjadi sebelum kewajiban berhijab (pardah) diundangkan – berkata: “Wahai Abu Lubabah, bergembiralah, Allah telah mengampuni dosamu.”


Setelah itu, banyaklah orang yang datang hendak melepaskan ikatan Abu Lubabah, namun beliau menolak seraya berkata: “Tidak. Demi Allah, saya tidak mau sebelum Rasulullah saw datang membebaskan saya dengan tangannya sendiri.”


Ketika Hadhrat Rasulullah saw hendak shalat shubuh, baginda menghampiri Abu Lubabah dan membukakan ikatannya.


Abu Lubabah lalu berkata kepada Hadhrat Rasulullah saw: “Kiranya akan sempurna taubat saya kalau saya meninggalkan kampung halaman kaumku tempat saya melakukan dosa di sana dan aku sumbangkan seluruh harta saya?”.


Hadhrat Rasulullah saw menjawabnya, ”Kau hanya dibenarkan menyumbangkan sepertiganya saja.” Lalu Abu Lubabah menyumbangkan sepertiga dari hartanya dan meninggalkan rumah leluhur beliau.
Demikianlah teladan yang diperlihatkan Sahabat Abu Lubabah, beliau menyadari kesalahannya dan begitu takutnya karena telah berbuat salah, beliau pun segera bertobat hingga Allah pun menerima tobatnya.



Download GTA San Andreas Mobile